1. Suku bangsa Murut selayang pandang
Asal usul
Menurut
beberapa sumber, kata “Murut” di Sabah mengandung arti kumpulan penduduk yang tinggal di lereng bukit atau tanah
tinggi di pedalaman yang mempunyai hubungan rapat dengan suku Dusun. Sementara mengikut Porllard, istilah Murut berasal dari akar kata “purut”
iaitu “berian” atau “hantaran mas kahwin.”
Sejarah
mencatat bahwa suku bangsa Murut merupakan suku yang tertua di Sabah yang datang dari Annam, Indo-China dan
kepulauan Filipina. Sekarang
menyebar baik dalam kelompok besar atau kecil di Sabah, Sarawak hingga di
wilayah perbatasan Kalimantan Indonesia. Sekarang dengan mudah kita menjumpai mereka
di daerah Tenom, Kemabong,
Pensiangan, Sook, Nabawan, Keningau, Sipitang dan daerah sekitarnya.
Suku ini juga merupakan suku etnik ketiga
terbesar di sabah. Di Sarawak pula, terdapat juga kaum Murut, akan tetapi suku
kaum ini amat sedikit kerana kaum ini terletak di bawah kaum Orang Ulu,
yaitu mewakili peribumi kecil saja. Dan umumnya kita dapat mengenal mereka
dalam tiga sub: Murut
Tahol atau Tagal, Tidung, Timugon, Sembakung, Paluan, Bookan, Kalabakan dan
Murut Serundung.
Perubahan
karena Injil
Pada mulanya, kaum Murut banyak
tinggal di rumah panjang dari bahan kayu, di pedesaan dan berhampiran di tepi sungai. Namun sejak tahun 80-an, apalagi
setelah Berita Injil tersebar luas dan menjadi berita utama yang membawa
keselamatan dan perubahan, banyak putra-putri Murut merantau ke daerah lain,
baik menimba ilmu atau bekerja di hampir seluruh Malaysia bahkan ke luar
negeri.
Namu demikian, bagi
mempertahankan tanah leluhur, pola hidup lama masih dipertahankan terutama yang
masih tinggal di daerah asal. Seperti bertani, beternak dan berdagang.
Hasil pertanian seperti padi sawah dan darat, menaman sayur-sayuran,
buah-buahan, beternak ikan tawar, ayam, lembu dan kerbau. Tanaman keras seperti
kelapa makan, kelapa sawit, karet, kopi, coklat juga dikelola penduduk secara kecil-kecilan
untuk disalurkan kepada perusahaan besar milik swasta.
Saat ini
banyak juga orang suku Murut yang bekerja di pemerintah sebagai pemimpin
daerah, wakil rakyat, pegawai, guru, polisi, tentara, dokter, perawat, wartawan, pensiarah
dan pekerjaan lainnya seperti mekanik, industry rumah, bisnis umum, kontraktor,
karyawan di perusahaan swasta dan perdagangan umum, tidak kalah dengan suku bangsa lainnya. Yang menjadi
hamba Tuhan juga banyak, baik jadi gembala, penginjil, pengajar dan penerbit
lagu-lagu rohani.
Umumnya suku
bangsa Murut menganut agama Kristen dengan organisasi
besar seperti gereja: SIB, RC, Yesus Benar, Advent, Calvary, CRC dan beberapa
gereja lainnya. Konon cerita lama para orang tua, sebelum mengenal Tuhan Yesus,
orang Murut percaya kepada ajaran nenek moyang yang juga percaya kekuatan
mistik, perdukunan. Namun oleh usaha para misionaris luar negara dan
hamba-hamba Tuhan dari berbagai tempat banyak orang Murut datang kepada Yesus
dan beribadah dengan setia kepada-Nya, bahkan banyak juga yang menjadi hamba
Tuhan yang membawa impak besar bagi suku bangsa lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar