GerejaPentakosta 'PraiseValley' adalah gereja lokal dari synode GEREJA PENTAKOSTA. Pengakuan DEPAG RI SK No. 165 /1989 Tgl. 27 Juli 1989 Kantor Pusat di Pematang Siantar, Sumatera Utara, Indonesia.

Selasa, 04 November 2014

MURUT, anduli pahakaku !



1.     Suku bangsa Murut selayang pandang

Asal usul

Menurut beberapa sumber, kata “Murut” di Sabah mengandung arti kumpulan penduduk yang tinggal di lereng bukit atau tanah tinggi di pedalaman yang mempunyai hubungan rapat dengan suku Dusun. Sementara mengikut Porllard, istilah Murut berasal dari akar kata “purut” iaitu “berian” atau “hantaran mas kahwin.”

Sejarah mencatat bahwa suku bangsa Murut merupakan suku yang tertua di Sabah yang datang dari Annam, Indo-China dan kepulauan Filipina. Sekarang menyebar baik dalam kelompok besar atau kecil di Sabah, Sarawak hingga di wilayah perbatasan Kalimantan Indonesia. Sekarang dengan mudah kita menjumpai mereka di daerah Tenom, Kemabong, Pensiangan, Sook, Nabawan, Keningau, Sipitang dan daerah sekitarnya.

Suku ini juga merupakan suku etnik ketiga terbesar di sabah. Di Sarawak pula, terdapat juga kaum Murut, akan tetapi suku kaum ini amat sedikit kerana kaum ini terletak di bawah kaum Orang Ulu, yaitu mewakili peribumi kecil saja. Dan umumnya kita dapat mengenal mereka dalam tiga sub: Murut Tahol atau Tagal, Tidung, Timugon, Sembakung, Paluan, Bookan, Kalabakan dan Murut Serundung.

Perubahan karena Injil

Pada mulanya, kaum Murut banyak tinggal di rumah panjang dari bahan kayu, di pedesaan dan berhampiran di tepi sungai. Namun sejak tahun 80-an, apalagi setelah Berita Injil tersebar luas dan menjadi berita utama yang membawa keselamatan dan perubahan, banyak putra-putri Murut merantau ke daerah lain, baik menimba ilmu atau bekerja di hampir seluruh Malaysia bahkan ke luar negeri. 

Namu demikian, bagi mempertahankan tanah leluhur, pola hidup lama masih dipertahankan terutama yang masih tinggal di daerah asal. Seperti bertani, beternak dan berdagang. Hasil pertanian seperti padi sawah dan darat, menaman sayur-sayuran, buah-buahan, beternak ikan tawar, ayam, lembu dan kerbau. Tanaman keras seperti kelapa makan, kelapa sawit, karet, kopi, coklat juga dikelola penduduk secara kecil-kecilan untuk disalurkan kepada perusahaan besar milik swasta.

Saat ini banyak juga orang suku Murut yang bekerja di pemerintah sebagai pemimpin daerah, wakil rakyat, pegawai, guru, polisi, tentara, dokter, perawat, wartawan, pensiarah dan pekerjaan lainnya seperti mekanik, industry rumah, bisnis umum, kontraktor, karyawan di perusahaan swasta dan perdagangan umum, tidak kalah dengan suku bangsa lainnya. Yang menjadi hamba Tuhan juga banyak, baik jadi gembala, penginjil, pengajar dan penerbit lagu-lagu rohani.

Umumnya suku bangsa Murut menganut agama Kristen dengan organisasi besar seperti gereja: SIB, RC, Yesus Benar, Advent, Calvary, CRC dan beberapa gereja lainnya. Konon cerita lama para orang tua, sebelum mengenal Tuhan Yesus, orang Murut percaya kepada ajaran nenek moyang yang juga percaya kekuatan mistik, perdukunan. Namun oleh usaha para misionaris luar negara dan hamba-hamba Tuhan dari berbagai tempat banyak orang Murut datang kepada Yesus dan beribadah dengan setia kepada-Nya, bahkan banyak juga yang menjadi hamba Tuhan yang membawa impak besar bagi suku bangsa lainnya.                                                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar